Transcript of interview with Afrizal Malna

Wawancara dengan Afrizal Malna, 6 Agustus, 2024 di Uyan Coffee & Heritage, Sidoarjo dilanjuttkan di rumah Afrizal pada hari berikutnya 7 Agustus 2024

DO: Afrizal selalu menulis pakai komputer?

AM: Pakai laptop.

DO: Sebelum itu pakai mesin tik aja?

AM: Iya.

DO: Dulu, pernah nulis pakai buku tulis aja, pakai tulisan tangan aja?

AM: Waktu nulis pakai mesin tik, aku selalu memulainya dengan tulisan tangan di kertas dulu, baru dipindah melalui mesin tik. Aku nggak pernah bisa nulis langsung pakai mesin tik. Tapi setelah pakai komputer, aku nggak pernah tulis tangan lagi, kertas ikut hilang. Mungkin banyak hal yang lain ikut hilang: tekstur, rasa berat pada kertas dan mesin tik, suara ...

DO: Ok, di dalam wawancara ini ada dua hal yang aku mau tanyakan: Pertama, tentang biografi. Terus, kedua pikiranmu tentang hal-hal estetika. Kita mulai dengan yang pertama, karena aku sudah baca banyak wawancara dan tulisan kamu tentang riwayat hidupmu.
Banyak yang sudah diomonongin jadi hal-hal itu tidak harus ditanyakan lagi. Di wawancara ini aku tertarik dengan hal-hal yang belum dibahas di situ. Kita bisa mulai dari masa kecil sampai ke sekarang.

Pertanyaan pertama: Di Prometheus Pinball ada satu dua puisi yang ceritakan perjalananmu ke Sumatera Barat waktu muda. Nah, kamu emang sering ngomongin perasaanmu sebagai generasi yang hilang. Gimana dampaknya pengalaman itu di Sumatera Barat di perasaanmu bahwa generasimu di Jakarta orang gak ada akar budaya yang kuat?

AM: Iya, aku generasi yang problemmya di Indonesia kurang teramati, generasi yang orang tuanya datang dari pulau yang lain. Ibuku dan ayahku dari Bukittinggi, Sumatera. Aku lahir dan besar di Jakarta, di daerah Senen. Itu daerah yang sangat kaya dengan perubahan, daerah yang penuh warna, juga daerah dimana kemiskinan lebih terlihat di situ. Dari stasiun kereta Senen aku juga bisa melihat orang keluar masuk Jakarta. Truk-truk yang mengangkut barang keluar dan masuk Stasiun Senen. Manusia dan barang sama padatnya.

Kami hidup dari orang tua yang membuka restoran Padang di Senen. Di mana restoran ini menurutku dapurnya asyik. Karena ayahku yang memasak, yang memimpin seluruh masakan, kayak kokinya begitu, jadi aku sering bermain di dapur itu. Melihat mereka masak sambil bernyanyi, nyanyi lagu-lagu Minang. Ayahku suka menyanyikan lagu-lagu Minang. Aku diajari atau dengan sendirinya aku mulai belajar motong ayam, kayak begitu-begitu. Dan yang menarik dari restoran ini adalah mereka tidak digaji, tapi bagi hasil dari hasil penjualan.

Jadi setiap tiga bulan sekali, seluruh masukan restoran itu dihitung bersama, kemudian dibagi-bagi sesuai peran mereka, karena waktu itu bank belum populer. Setelah pembagian hasil, mereka pulang membawa karung yang isinya uang. Dan ayahku akan pulang bersama uang di dalam karung dan satu atau dua peti bir untuk dia minum. Jadi kayak gitu. Nah, dunia kami berantakan setelah daerah Senen digusur dan menjadi Proyek Senen seperti sekarang ini. Setelah itu keluarga kami secara ekonomi tidak bisa bangkit lagi.

DO: Itu terjadi kapan? Pas zaman Ali Sadikin?

AM: Iya itu zaman Ali Sadikin. Sekitar ... kayaknya aku mulai SMP. SMP, tahun-tahun '60an akhir ... atau ... bukan, bukan, tahun menjelang 70 awal ya. Aku lulus SMP tahun '73 kalau nggak salah. Dan yang menarik di masa-masa ini adalah, aku sekolah SD di daerah Kwini, Jakarta Pusat. Sebuah daerah tempat kompleks anak-anak tentara dari angkatan laut bermukim. Dan banyak sekali bangunan Belanda di tempat aku sekolah di SD ini (termasuk gedung Stovia yang pada jaman Belanda jadi tempat sekolah kedokteran pertama). Tetapi sekolahku tiba-tiba ditutup. Aku harus pindah ke sekolah lain (di Kramat Pulo) dan aku tanya kemudian, kenapa sekolahku ditutup? Katanya, kepala sekolahnya PKI, gitu. Dan aku nggak tahu apa-apa tentang apa itu PKI (Partai Komunis Indonesia).

Di dalam lingkungan seperti itulah aku dibesarkan, termasuk budaya Minang yang sangat- buat aku-ribet ya. Cara mereka berpakaian, cara mereka berhubungan antara sesama mereka, adat-istiadatnya, model-model kekeluargaan, hubungan sosial di dalam keluarga, antara paman dan keponakan dan seterusnya. Dan usia 5 tahun, aku diajak pulang ke Bukitttinggi. Itu naik kapal laut, kapal Pelni, pertama kali aku naik kapal besar, mungkin 2 hari atau 3 hari, sebuah dunia yang membuatku takjub. Setelah naik kapal itu, aku kepingin jadi pelaut. Dan ketika sampai di Bukittinggi yang aku temukan adalah dunia yang lain ya: Bagiku indah. Keluarga kami masih tinggal di rumah gadang, di Bukittinggi. Dalam rumah ini aku menghadapi kultur yang sama sekali lain, di mana di bawah rumah panggung itu ada dapur, dapurnya pakai peralatan-peralatan besar untuk memasak-misalnya penggorengannya besar dan pengaduknya besar-dan di situ juga ada ayam, ada kambing, ada anjing. Anjing berfungsi untuk mengangon (mengawal)(7:44) kambing mencari makan di kebun. Kami juga di situ punya kebun, kalau nggak salah ada empang juga. Ibuku setiap hari berenang di empang itu. Dan pamanku menggendongku di atas bahunya, membawaku ke kebun, metik cabe dan lain-lain. Dan banyak sekali pemandangan indah yang kami kunjungi, yang di Jakarta sama sekali tidak ada. Buatku indah sekali semua itu. Tapi entah kenapa aku merasa semua itu nggak ada hubungan dengan duniaku. Aku gak ngerti bagaimana persepsi itu ada dalam diriku. Jadi aku nggak punya impian untuk datang kembali ke tempat itu. Di balik semua keindahan itu, seperti menyimpan semacam kerumitan. Dan kerumitan ini tidak semata-mata kerumitan tradisi, tapi mungkin kerumitan agama, dipaksa solat gitu. Kalau tidak solat, hidung ditarik, kayak gitu-gitu, untukku nggak nyaman, Daniel. Dan duniaku juga tidak terhubung dengan bahasa yang mereka gunakan, bahasa Minang itu seolah-olah sebuah bahasa yang asing buat aku. Nah aku sendiri tidak mengerti kenapa aku membuat batas persepsi seperti ini terhadap tradisi yang dibawa oleh keluargaku.

DO: Ok, terima kasih. Terus, waktu kamu pertama mulai menulis puisi waktu SMP/SMA itu apa yang menarik buat kamu? Apa yang menggoda kamu untuk menulis puisi? Perasaan seperti apa bikin kamu mau lanjut menulis puisi?

AM: Bahasa itu - buatku ada teksturnya. Di mana-dalam pembayanganku-di masa-masa itu menulis puisi itu seperti-ini pembayanganku ya, imajinasiku: menggunakan kata seperti melempar batu ke dalam bahasa. Jadi menulis puisi itu seperti satu kegiatan yang-dalam tanda kutip ya-tidak ada hubungannya dengan dunia tulis-menulis. tapi bagaimana kata- kata itu dilemparkan ke sebuah tempat yang tidak sebagai mestinya, lalu menjadi sesuatu yang lain gitu. Tapi waktu itu aku nggak punya pembayangan seperti yang aku rumuskan sekarang ini. Ini sebuah rumusan yang aku gunakan untuk menjelaskan situasi waktu itu. Dan biasanya kan puisi pada generasiku lebih terhubung dengan situasi-situasi romantik, dengan jatuh cinta gitu ya. Aku justru nggak pernah nulis puisi cinta. Aku pernah bertanya kepada guruku waktu ku masih sekolah di SMA. Guruku tahu aku suka menulis puisi (dia wakil kepala sekolah), dia kayak punya perhatian khusus buat aku, waktu sekolah SMA itu. "Wah, tapi pak aku nggak pernah bisa menulis puisi cinta," aku bilang. Terus dia bilang, "ya belum saatnya, nanti kamu akan bisa." Tapi mungkin itu juga terhubung di mana aku banyak sekali bergaul ... teman-temanku sebagian besar justru perempuan, dan mereka tidak aku perlakukan sebagai perempuan, tapi seperti makhluk tanpa gender dan aku juga tanpa gender gitu. Jadi kami bisa tidur ramai-ramai di tempat tidur tanpa ada perasaan-perasaan khusus gitu, Daniel. Jadi kayak begitu situasiku menulis puisi.

Dan pada era itu ada koran Salemba yang terbit di UI (Universitas Indonesia). UI waktu itu masih di Salemba, Jakarta Pusat. Dan ada kakak kelasku, perempuan, dia menulis puisi juga dan puisinya mulai dimuat di koran Salemba itu dan aku terkagum-kagum sama puisi dia. Dan dia bisa nulis tentang lukisan Picasso di dalam puisinya. Terus setelah aku mulai mengerti siapa itu Picasso, aku jadi mulai bertanya, dia tahu apa tentang Picasso? Aku megang majalah dinding SMA di sekolah. Majalah dinding ini setiap minggu ganti edisi. Dan di majalah dinding ini aku mendorong teman-teman punya ekspresi kebebasan untuk menulis apapun atau menggambar apapun, termasuk kritik terhadap sekolah, atau terhadap guru-guru gitu.
Dan majalah dinding ini hampir setiap tahun menang-ada lombanya-di Jakarta. Dan kalau menang, hadiahnya uang, tapi dibayar dalam bentuk buku sastra. Jadi kita harus memilih sejumlah buku dengan harga tertentu. Dan hadiah ini aku bawa ke sekolah. Terus wakil kepala sekolah bilang, buku-buku ini kamu bawa pulang aja, lebih berguna buat kamu daripada buat sekolah. Nah itu membuat aku punya bacaan-bacaan baru tentang sastra.

DO: Jadi itu di SMA?

AM: Di SMA.

DO: Jadi di SMA ada guru yang mendorong kamu juga ya?

AM: Mendorongku, iya. Tapi di era itu nggak ada satu pun puisi yang aku simpan. Setiap tahun puisi-puisi yang pernah aku tulis aku bakar. Karena aku merasa aku masih merindukan... lebih suka membaca puisi orang lain daripada membaca puisiku sendiri. Jadi aku nggak punya dokumen puisi-puisiku di masa SMA.

DO: Di wawancara lain juga kamu ceritakan kartu pos yang dikirim ke stasiun radio... ?

AM: Iya betul, itu era-era SMP ya. Di SMP itu, generasi mudanya bergaul melalui kiriman- kiriman salam lewat radio gitu. Dan untuk mengirim salam lewat radio, karena belum jaman internet ya, dan belum ada telfon, kita mengirimnya lewat kartu pos. Jadi ditujukan ke radio tertentu dan di bagian belakang kartu pos kita menulis salam buat seseorang, terus minta lagu gitu. Nah ucapan-ucapan salam ini adalah ... kayak semacam ... sekarang itu kayak bikin konten kreative ya. Membuat kata-kata yang unik gitu, dan kemudian ditutup: "dari Afrizal di villa biru," kayak gitu-gitu. Jadi nyebut identitas yang fiktif juga, di tempat-tempat yang namanya dibuat aneh gitu.

DO: Itu ada bentuk buat ...?

AM: Ada rubriknya di radio, iya. Aku lupa ya nama rubriknya, tapi ini rubrik untuk anak- anak muda dan biasanya di balik salam-salaman itu ada puisi yang dibacakan.

DO: Apakah kamu merasa itu mempengaruhi penulisanmu?

AM: Sangat mempengaruhi, karena buatku pelajaran bahasa Indonesia itu nggak menarik. Aku nggak bisa menulis dari pelajaran bahasa Indonesia. Jadi kegiatan radio itu, ngirim- ngirim salam, itu justru membuat aku menjadi dekat dengan dunia menulis di luar pelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Kemudian berkembang menjadi belajar menulis dengan cara berkirim surat.

DO: Terus, soal kuliah, waktu di Driyarkara itu ...

AM: Iya ya ya, ini aneh juga ya. Teman-teman SMAku itu seram ... aneh-aneh gitu. Ada teman menjelang pengumunan ujian, dia sudah beli racun tikus. Aku tanya "buat apa ini racun tikus?" "Kalau aku gak lulus aku mau bunuh diri," katanya [hahahaha]. Jadi di era itu sekolah itu cukup tegang gitu, sehingga ada teman yang sampai ingin bunuh diri kalau tidak lulus. Seluruh kawan-kawanku waktu itu mereka sudah memilih kuliah, umumnya di kedokteran, arsitektur, psikologi, atau akutansi, sekolah-sekolah yang segera menjanjikan pekerjaan dan penghasilan yg besar, sementara aku tidak pernah tahu mau sekolah apa.
Sekolah seni juga aku bingung juga, kenapa belajar seni harus di sekolah?

Jadi setelah lulus SMA, aku menganggur, tidak sekolah beberapa tahun, dan selama tidak sekolah itu aku aktif di teater dan di sanggar lukis di Gelanggang Planet Senen. Jadi sibuk di situ atau naik gunung. Jadi aku tidak nganggur. Bisa dikatakan aku cukup sibuk dengan seni rupa, teater, atau naik gunung. Ini sebelum masuk kuliah. Sampai suatu hari aku membaca sebuah esai di Kompas. Aku punya kesan esai ini bahasa Indonesianya indah sekali. Dan aku terkagum-kagum dengan bahasa Indonesianya. Bukan dengan apa yang dia tulis, tapi dengan bahasanya. Terus aku lihat yang menulis Kees Bertens. Dia seorang Belanda, dosen yang mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Wah, ini menarik, aku mau kuliah ke sini, gitu. Jadi aku carilah, STF Driyarkara itu apa dan di mana. Akhirnya aku kuliah di sana.
Waktu itu model kuliahnya ada dua: ada yang umum-jadi kita mengikuti prosedur kuliah pada umumnya-ada mahasiswa khusus. Mahasiswa khusus ini boleh memililh mata kuliah apapun, tapi dia punya hak yang sama untuk dapat titel sarjana setelah kreditnya cukup. Nah aku ambil mahasiswa khusus. Jadi aku memilih mata kuliah yang aku anggap menarik. Tapi ternyata aku nggak suka kuliah, nggak suka ujian. Dan juga nggak punya cita-cita jadi sarjana gitu. Akhirnya aku cabut dari sana, dari kuliah itu. Nah, aku nggak tahu dampak ke cara aku berpikir-karena aku cabut dari kuliah itu, tidak selesai-apa itu membuat cara pikirku jadi liar atau jadi lebih eksperimental atau apa, aku tidak tahu. Tapi untuk teman- teman yang selesai kuliah, ya cara berpikirnya jadi sistematik, ketat begitu. Sementara aku takut sekali dengan cara berpikir yang sistematik gitu, ketat, seolah-olah berpikir di sebuah kamar khusus gitu, Daniel.

DO: Terus, habis itu kamu keluar kuliah, terus kamu mulai kerja di akutansi ya?

AM: Selama aku di SMA-aku dan kakaku (usia kami kan beda 11 tahun)- kakakku itu berusaha menciptakan masa depanku. Jadi dia memaksa aku untuk ngambil kursus-kursus tertentu, di antaranya kursus mengetik sepuluh jari, kursus tata buku-tata buku akunting seperti sekarang-dan aku lulus dua kursus itu. Nah ijazah lulusan itu jauh lebih bisa dipakai daripada ijazah SMAku untuk bekerja. Karena hasil lulusan kursus itu, itu aku keluar masuk pekerjaan cukup gampang. Setiap aku nggak cocok, aku keluar nyari lagi pekerjaan lain, nggak cocok keluar nyari pekerjaan lain lagi. Lama-lama aku mencoba menghitung jam kerjaku lebih banyak di mana: di kesenian atau di pekerjaan? Aku pikir jam kerjaku lebih banyak di kesenian. Akhirnya aku keluar, nggak mau kerja lagi. Sampai sekarang.

DO: Itu terjadi kapan?

AM: Cabut dari dunia pekerjaan?

DO: Iya

AM: Hmm... aku lupa ya. Mungkin menjelang tahun 80an akhir kali ya ...

DO: Jadi sudah mulai ...

AM: ... atau 90an awal

DO: Jadi udah mulai nerbitin buku-buku, udah mulai kerja sama Teater Sae?

AM: Iya

DO: Jadi waktu itu kehidupan sehari-hari seperti apa?

AM: Aku termasuk orang yang bekerja cepat. Tapi aku masuk kerja banyak telat, banyak bolos. Tapi pekerjaanku jauh lebih cepat dari pekerjaan teman-teman gitu, jadi aku nggak merasa mencuri waktu karena pekerjaanku juga tidak terbengkalai. Nah, di balik pekerjaan itu, setelah setiap pulang kerja, bisa pulang rumah dulu, mandi, pergi lagi, atau langsung ke tempat kegiatan-kegiatan kesenian.

DO: Waktu itu biasanya itu di mana, di TIM?

AM: Di TIM umumnya, dan aku menulis masih pakai mesin tik waktu itu. Aku biasa ngetik sampai tengah malam. Sehingga ketika aku pindah ke tempat lain, ada tetanggaku yang rindu dengan suara mesin tikku di tengah malam. Katanya menciptakan rasa nyaman dan aman.

DO: Jadi waktu itu tinggal di mana?

AM: Waktu itu sudah tinggal di Bekasi

DO: Kapan keluar dari rumah keluarga?

AM: Mungkin tahun '87 ya. Mungkin ya. Aku lupa ya, Daniel.

[pertanyaan panjang yang putar-putar tentang Abad Yang Berlari]

[istirahat]

AM: Jadi Abad Yang Berlari itu puisi-puisi yang ditulis awal '80an atau akhir '70an sampai tahun '80an. Itu paska tragedi '65 ya, dan di bawah Orde Baru Indonesia mulai terhubung dengan minyak yang membuat ekonomi Indonesia berubah cepat. Minyak. Minyak ini membawa banyak perubahan di Indonesia: perkembangan teknologi, industri, macam-macam. Semuanya berada di bawah kontrol Suharto. Dan pada era itu juga aku mulai kuliah di Filsafat Driyarkara. Dan ada satu film yang cukup menghantuiku yaitu The Day After, itu film tentang bayangan ketika nuklir meletus gitu, dan apa yg terjadi dengan dunia kita. Jadi teknologi di samping menjanjikan masa depan yang lain, tapi juga menjanjikan kehancuran.
Nah, Abad Yang Berlari berada dalam situasi seperti itu, seperti waktu yang tiba-tiba berubah dengan cepat, semuanya bergerak dengan cepat, mulai transportasi berubah ya, kendaraan- kendaraan motor, produk-produk Jepang semakin banyak beredar di kota-kota besar di Indonesia. Dan masyarakat mulai berada di dalam dimensi waktu yang mulai keluar dari dunia agraris ya, terutama di kota. Suasana seperti itu-ketika puisi itu terbit-aku membayangkan suasana itu terkover di puisi-puisi itu, tapi ternyata yang ada tetap puisi indonesia ya, walaupun ada idiom-idom yg sebelumnya tidak ada di puisi indonesia. Setelah terbit, aku beranggapan: "oh ini puisi Indonesia," bukan puisiku.

Kenapa aku katakan ini puisi indonesia? Karena kehidupan sehari-hariku hiruk-pikuk, jalan raya yang aspalnya masih banyak berlubang, becek, banjir, suara bising, debu, dan kemiskinan. Tekstur itu seperti hilang dalam buku itu. Aku baru menyadarinya justru setelah buku itu terbit, dan membuat jarak definitif dengan sebelum terbit. Setelah itu aku semaakin banyak melakukan studi yang panjang tentang puisi Indonesia, dan kemudia terbit dalam buku kumpulan esaiku: Sesuatu Indonesia. Ini merupakan studiku yang panjang di mana puisi Indonesia dirumuskan oleh A. Teeuw sebagai hubungan manusia dengan alam, keseimbangan, harmonisasi, kayak begitu-begitulah ya. Sementara dunia di sekitarku sudah berubah, tidak lagi seperti puitika yang dibayangkan oleh A. Teeuw.

Dan ada hantu yang menghantuiku di dalam Abad Yang Berlari yaitu Chairil Anwar yang di agung-agungkan di dalam sastra Indonesia. Kemudian Sutardji Calzoum Bachri, yang membawa aku ke dalam situasi primitif dalam menghadapi bahasa ya. Satu lagi Borobudur. Borobudur membuat aku punya bayangan: ingin menulis dengan bahasa batu. Ini yang membuat aku sebenarnya terhubung dengan aspek primitif dari bahasa. Bagaimana sih dunia primitif di dalam bahasa? Dan jelas bahasa Indonesia tidak bisa mewakili primitifisme dari bahasa. Karena bahasa ini akarnya nggak jelas gitu. Bahasa yang sudah dicabut dari akar lamanya (bahasa Melayu). Dan satu lagi, teknologi. 4 hantu itu menghantuiku yang ketika Abad Yang Berlari terbit, aku baru sadar bahwa dari semuanya hanya sekian persen ada di buku itu yang memenuhi harapanku. Pertanyaanku adalah apakah buku itu terlalu cepat diterbitkan, tergesa-gesa; sebenarnya belum selesai atau memang tidak sampai? Yang jelas memang buku itu tidak berencana diterbitkan, tapi beberapa teman STF Driyarkara, mereka patungan ingin menerbitkan buku itu. Jadi setelah terbit, "wah ini bukan bukuku, ini buku puisi Indonesia." Yang aku maksud aku tidak menemukan diriku dalam buku itu, tapi menemukan puisi indonesia pada umumnya gitu. Akhirnya aku mencari tahu apa sih yang terjadi sebenarnya. Di situ aku benci sekali menulis puisi. Setelah itu aku semakin terhubung dengan teater dan seni rupa, aku semakin dekat dengan dua hal itu. Dan juga naik gunung ya. Dua-duanya berjalan terus dan ada background filsafat di mana aku mulai berani berpikir lebih radikal gitu. Sampai akhirnya aku menduga: "wah kayaknya aku telah meninggalkan tubuhku waktu menulis. Aku tidak melibatkan tubuhku. Di situ aku mulai berpikir tentang bagaimana caranya menulis dengan tubuh, tidak dengan bahasa, karena bahasa membuat aku jadi memanipulatif. Kayak gitu, Daniel.

DO: Jadi kamu anggap Mitos-Mitos Kecemasan, Arsitektur Hujan, dan karya-karya selanjutnya kamu udah mulai menulis dari tubuh?

AM: aku merasa sudah mulai begitu ya. Dan cara aku memberi judul juga sudah berubah. Aku sudah melihat misalnya mikrofon sebagai tidak hanya metafornya. Tapi itu juga mungkin terhubung di kuliahku, dengan filsafat manusia. Dan filsafat manusia ini, kalau tidak salah, di dalamnya ada juga pikiran-pikiran mazhab Frankfurt itu, Adorno, kayak gitu-gitu. Aku baca karya itu di kuliah, di mana teknologi itu dilihat sebagai perpanjangan tubuh manusia.

DO: Terus, karya selanjutnya - Mitos-Mitos Kecemasan, Yang Berdiam Dalam Mikropon, Arsitektur Hujan - itu semua kamu menulis waktu masih bergerak sama Teater Sae?

AM: Masih. Menurutku dunia prosaku seperti cerpen atau naskah teater itu jadi laboratorium utamaku dalam mengolah dunia tulis-menulisku. Jadi justru laboratoriumku kayaknya ada di dua itu. Cerpen-cerpenku dan naskah teaterku sebenarnya lebih progresif daripada puisiku.

DO: Aku mau nanya tentang masa kapan kamu menulis buku-buku itu juga tapi pertama aku mau tanya dulu - pernah kita membahas tuduhan PKI malam - kapan itu terjadi?

AM: Itu terjadi setelah munculnya Mitos-Mitos Kecemasan kayaknya.

DO: Jadi akhir '80an itu?

AM: Iya gitu. Jadi waktu itu mulai ada orang menolak hadiah Magsaysay untuk Pram.

DO: Oooh, itu awal 90an ya

AM: Mungkin ya, mungkin. Terus aku gak bersikap. Terus aku menyerang ... mengkritik Abdul Hadi WM yang menyetuskan Angkatan 70 dan menolak angkatan-angkatan itu dan penyeragaman tentang puisi-puisi sufisme. Dan setelah itu, mulai muncul itu istilah-istilah PKI Malam, Kiri Baru, kayak gitu ya dan dilontarkan ke publik. Bahkan kayak Berthold Damhauser [salah seorang penerjemah puisiku ke dalam Bahasa Jerman), dia tinggal di Bonn, juga menganggapku kiri gitu. Dan aku nggak mengerti kenapa aku disebut kiri. Dan mereka juga heran kenapa aku tidak pucat disebut kiri gitu. Dan aku juga heran kenapa aku tidak pucat. Jadi ternyata di eraku itu, aku terjepit di dalam dua pihak itu. Pertama kubu Lekra yang tersingkir. Terus kubu Manikebu yang tetap mendeteksi generasi baru. Jadi ada di dalam dua jepitan itu. Ke kiri atau ke kanan. Seolah-olah tidak ada pintu lain, gitu daniel.

DO: Nah mungkin mulai .. kamu pernah ceritakan (dan ada di banyak puisimu juga) cerita- cerita tentang perjalanan di Indonesia keluar Jakarta. Kamu jalan-jalan ke banyak kota kecil, mungkin di luar Jawa juga. Boleh minta kamu ceritakan itu? Terjadi kapan?

AM: Itu zaman... kayaknya di sepanjang antara Abad Yang Berlari, Mitos-Mitos Kecemasan, Arsitektur Hujan, karena era itu penjualan buku puisi itu terhubung dengan berapa banyak penyair itu berjalan dari kota ke kota untuk baca puisinya sambil menjual puisi. Karena waktu itu toko buku tidak umum menjual buku puisi.

DO: Oh gitu, jadi kamu harus jual sendiri

AM: Jual sendiri. Kecuali beberapa penerbit besar seperit Pustaka Jaya. Dan waktu itu aku nggak punya bayangan bahwa puisiku akan diterbitkan oleh penerbit-penerbit seperti Pustaka Jaya. Sampai sekarang puisi-puisiku diterbitkan oleh penerbit-penerbit aneh. Nah, di perjalanan-perjalanan itu, justru membuat aku ... berhadapan dengan banyak hal ya.
Budaya yang beda, teman-teman yang beda, cara berpikir yang beda, cara bermimpi yang beda. Dan yang membuat aku syok-di Indonesia itu, dibandingkan aku ke luar negeri- adalah ketika aku datang ke Merauke, aku menemukan dunia sama sekali beda, keindahan sama sekali beda, kultur sama sekali beda, dan juga di Matalibaq. Matalibaq ini di Kalimantan Timur, Dayak Bahau ya. Aku diangkat anak juga di situ dan diberi nama "Lung Devung".
Ada dua namaku ketika diangkat. Satu Lung Devung, ada satu lagi, aku nggak tahu namaku, lupa ya. Dan itu dunia sama sekali lain, di mana aku bisa melihat masa depan Indonesia ada di belakang. Ada di masa lalu.

DO: Apa maksudnya?

AM: Kita tidak terlalu mengenali ekosistem yang dibangun oleh nenek-moyang kita, tradisi kita, yang di dalamnya mungkin ada cara-cara hidup yang saling terkait satu sama lain begitu. Misalnya di Dayak Bahau, model pendidikan mereka itu berlangsung tidak lewat sekolahan, tapi anak-anak langsung diterjunkan untuk menari, tidak dilatih, belajar sendiri, langsung menari bersama yang lain, dan ada pendidikan seks, menari dengan main-mainin kelamin kayak gitu-gitu. Itu di Dayak Bahau ya. Sampai ke tarian-tarian sakral. Dan juga mereka punya tradisi menceritakan kisah-kisah keluarga mereka yang sudah meninggal sambil mabuk minum tuak.

DO: Jadi berarti ada seperti sumber daya buat masa depan di masa lalu?

AM: Iya betul.

DO: Jadi apa pengaruhnya pengalaman-pengalaman itu di tulisanmu?

AM: Pengaruhnya adalah... bahasa Indonesiaku ya. Bahasa Indonesia ini untukku nggak punya akar apapun, kecuali ngomong-ngomong seperti ini. Tidak membawa kultur tertentu.

Dan ketika terhubung dengan kultur-kultur ini, pekerjaan beratku adalah bagaimana bahasa Indonesia bisa terhubung dengan kultur itu. Misalnya, awalnya aku tidak terlalu suka dengan beberapa teman penyair dari Bali, mereka kalau baca puisi aneh-aneh gitu. Tapi setelah aku ngerti bahwa di dalam bahasa Indonesia tidak mungkin ada dupa (tidak ada kultur Hindu- Bali), tidak mungkin ada sesajen, aku merasa bahasa Indonesia tidak bisa mewakili kultur mereka. Dan karena itu mereka mengeluarkan bunyi-bunyian dari kultur mereka yang masuk ke dalam bahasa Indonesia gitu. Nah setiap penyair di Indonesia yang mulai punya pikiran- pikiran lintas budaya begitu, dan berbasis bahasa Indonesia, dia punya tantangan baru: bagaimana membawa bahasa Indonesia sebagai kerja antar-kultur. Menurutku bahasa Indonesia membuat puisi Indonesia khas. Bahasa Indonesia kan hidup di tengah ratusan bahasa yang lain, di mana bahasa Indonesia ikut membunuh ratusan bahasa itu juga. Tapi di balik pembunuhan ini, bahasa Indonesia menyatukan juga masyarakat dari 700 pemakai bahasa itu. Jadi posisi bahasa Indonesia juga sangat terjepit antara dua hal itu, Daniel.

DO: Terus aku mau tanya tentang kalung itu yang kamu suka ceritakan. Soal kesadaran aku- masa dan berpikir dengan gambar itu. Beberapa kali kamu ceritakan pengalaman dengan kalung itu sebagai semacam transformasi itu. Nah itu terjadi kapan?

AM: Jadi waktu itu aku punya seorang pacar ya. Pacarku ke Bangkok. Pulang menghadiahiku sebuah kalung, Buddhist gitu. Bentuk Buddha dalam posisi bertapa pada kalung yang cukup besar itu. Kalung di leherku itu aku biarkan bergelantung pada bagian luar bajuku. Ketika dia aku pakai, aku merasa jadi lain, seperti terhubung dengan sebuah pribadi baru. Apakah pengalaman serupa bisa dialami orang-orang lain, aku tidak yakin. Tapi kenapa aku mendapatkan persepsi itu? Mungkin karena aku cukup terbuka terhadap apa yang berubah dengan diriku: "wah kok dengan cara seperti ini aku bisa mendapatkan identitas baru?" Nah di era-era itu, generasi di atasku itu mulai berbicara kembali ke akar tradisi dan kemudian muncul proyek-proyek revitalisasi tradisi yang banyak terjadi terutama pada dunia tari, yang ujung-ujungnya kayaknya lebih buat pariwisata, Daniel. Pengalaman identitas yang berubah, karena penggunaan aksesoris atau sesuatu yang kita pakai sehari-hari itu seolah-olah membebaskanku dari jargon-jargon kembali ke tradisi. Karena aku nggak punya tradisi. Kembali ke tradisi mana!?

DO: Jadi setelah itu kamu masuk ke budaya masal gitu?

AM: Iya, betul. Aku masuk ke budaya masal, bagian dari dunia pop dan kesenian yang sebelumnya adiluhung ikut cair di situ. Dan aku seperti ikut terbebaskan atau mendapatkan kebebasan baru.

DO: Oke. Terus, aku rasa Abad yang Berlari dan ketiga buku setelahnya (MMK, YBDM, AH) seperti satu zaman dalam penulisanmu. Terus ada Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing yang aku sedang terjemahkan sekarang ya. Nah di situ ada yangg berubah menurut aku. Kamu rasa gimana? Itu masih satu zaman buat kamu?

AM: Aku agak kurang mengikuti puisi-puisiku sendiri ya. Dan biasanya setelah sebuah buku selesai aku tidak ingin mengulang lagi. Dia seperti berhenti begitu saja. Dan aku harus menunggu satu momen terjadinya perubahan baru. Dan kadang-kadang momen itu bisa cukup panjang. Kadang-kadang tidak terlalu panjang juga. Nah di Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing itu aku lupa ya itu menjelang reformasi atau setelah reformasi ya?

DO: Terbitnya setelah reformasi tapi puisinya banyak yang ditulis di situ sebelum reformasi juga.

AM: Nah itu era perubahan politik di Indonesia dan juga aku memasuki hubungan percintaan yang absurd gitu ya, Daniel. Aku agak sulit menceritakan hubungan percintaan yang absurd ini. Atau kamu memerlukannya?

DO: Nggak, terserah kamu, nggak harus kalau nggak mau.

AM: Aku ... bagaimana ya ... aku punya seorang pacar di kota yang berbeda dan hubungan kami itu agak aneh. Di kota itu aku berkenalan denganya. Setelah itu nggak pernah ketemu lagi. Tiba-tiba aku kontak dia, dia bilang dia ingin bunuh diri, terus aku bertanya "gimana caranya untuk kamu tidak bunuh diri?" Dia bilang kecuali aku menemani dia. Terus aku bilang ok aku akan menemani kamu. Setelah itu aku jadi bingung sendiri, apa artinya aku menemani dia. Ini situasi yang sulit yang membuatku begitu sedih. Ternyata dia mengajak satu hubungan rahasia gitu ya, yang tidak diketahui publik. Jadi percintaan kami berlangsung tidak diketahui publik. Karena tidak diketahui publik, publik menganggap aku laki-laki bebas gitu. Dalam situasi itu banyak perempuan yang masuk. Ada dari Kalimantan, ada dari Swiss juga ... terus dari mana lagi gitu, dan waktu itu sudah mulai zaman sms. Nah seluruh smsku dikontrol sama pacarku itu. Kadang-kadang dia yang balas, jangan mengganggu suamiku begitu, tulisnya. Tapi suatu hari aku melihat dia berjalan dengan laki-laki lain. Dan aku sangat bingung sampai aku nggak mengerti ini dunia seperti apa ya. Kemudian aku menangis gitu Daniel. Nangisku panjang, nggak berhenti-berhenti. Aku keluar dari hotel, nangis, naik becak, nangis, tukang becaknya bingung, datang ke restoran kopi, masih nangis, mesan kopi, juga sambil nangis gitu. Jadi ada situasi politik dan juga ada situasi hubungan percintaan yang aneh itu ya. Dan ketika dia diberi judul, setelah terbit, aku menyesal ya dengan judul itu, karena judul itu menurutku keras, dan dia menjadi puisi yang hampir nggak pernah aku sentuh setelah terbit. Walau covernya sangat indah dari lukisan Ugo Untoro.

DO: Itu juga buku yang ada puisi berhubungan langsung dengan politik menjelang reformasi. Apa kamu pernah menjadi aktif di gerakan ... apa ... gerakan demokrasi gitu?

AM: Iya, aku aktif di gerakan rakyat miskin kota.

DO: Sebelum reformasi kamu mulai?

AM: Sebelum. Dan ikut mendirikan lembaga itu. Dan ikut menghadapi serangan-serangan...

DO: ... Itu tahun 98? ... AM: ... sebelum 98. ...

... Pernah kami di sebuah kampung, diserbu, mau dibakar, mau dibunuh. Kayak gitu-gitu. Sehingga kami meloloskan diri dengan cara diselundupkan oleh warga ke rumah tetangga lain. Terus setelah reformasi gerakan kami jadi tambah besar. Kami bisa demo dengan masa sampai 2000 gitu. Dan beberapa kali kami ditangkap karena demo-demo ini. Tapi kisah-kisah di gerakan rakyat miskin kota ini, jarang sekali aku jadikan sebagai narasi dari biografiku, karena aku nggak suka seolah-olah di dalamnya ada sisi heroik gitu ya.

DO: Dari tahun berapa kamu aktif?

AM: mungkin dari tahun 96, atau mungkin 97. Kayaknya 96, sampai sekitar 2004 atau 2005 mungkin.

DO: Pada waktu itu kamu juga berhenti menulis puisi?

AM: Sebagian besar aku berhenti. Aku kayak out dari publik kesenian. Dan betul-betul belajar dari rakyat miskin kota. Lebih tepat mungkin aku lebih terkagum-kagum dengan dunia mereka.

DO: Jadi kegiatannya sama UPC waktu itu seperti apa, sehari-hari?

AM: Sehari-hari kami sangat sibuk karena kami mengurus banyak hal. Dan aku bagian desain ya. Desain apapun. Tapi terutama setiap demo gitu ya aku yang megang desain dan desain ini tidak berarti aku yg mendesain, mereka sendiri yang melakukan. Aku lebih untuk mendorong mereka berani mengeluarkan karakter rakyat dalam aksi-aksi mereka. Melalui desain mereka sendiri, mereka bisa menemukan kembali kekuatan mereka.

DO: Jadi lebih ke bantu memfasilitasi...

AM: Iya, betul.

DO: Dan kamu juga menjadi editor buku Rakyat Miskin Kota Menulis Riwayatnya Sendiri ... ?

AM: Tiba-tiba beberapa hari yang lalu Nuning kontak aku, dia suka sekali dengan buku itu, "wah buku itu sudah lama sekali terbit." Baru-baru ini aku ke Kendari, tiba-tiba aku menemukan lagi buku itu. Karena selama ini aku nggak punya, jadi sekarang aku udah punya buku itu. Tapi buku itu udah berlobang, dimakan rayap. Aku buka lagi buku itu, iya rakyat miskin kota selalu membuat aku sedih ya, membuat aku menangis kalau aku ingat gerakan itu. Karena menurutku mereka kuat, indah, penuh ide. Mereka jadi begitu bukan karena pemerintah tidak bisa menyelesaikan masalah kemiskinan di Indonesia, tapi menurutku karena kemiskinan di indonesia adalah politik yang bisa diperdagangkan. Jadi itu sisi dari kemiskinan Indonesia bagian dari politik Indonesia.

DO: Nah kalau reformasi, kamu ikut demo 1998?

AM: Aku nggak pernah memposisikan diriku seperti Widji Thukul. Aku memposisikan diriku kayak orang biasa. Nah ketika reformasi terjadi, waktu itu aku tinggal di Ciledug. Aku melihat tiba-tiba ada mobil dibalikin, kemudian dibakar. Kemudian aku lihat orang-orang yang membalikkan dan membakar mobil ini, ban-banya yang akan dibakar udah disiapin gitu, badan mereka kekar-kekar ya. Aku nggak tahu ini orang siapa, yang jelas bukan dari kampungku. Dan saat itu aku mulai mendengar reformasi, dan entah apa yang terjadi dengan diriku, aku berjalan keluar mengikuti aksi-aksi di jalanan gitu, tidak sebagai siapa pun, sebagai orang yang melihat aja, gitu Daniel. Sampai jam 2 pagi baru pulang lagi. Jadi keliling sampai ke dareah-daerah Ciputat, dan banyak ruko-ruko yang dibakar, suara ledakan, suara teriakan, sampai rumah jam 2 pagi. Dan aku nggak ada duit, uang yang aku punya hanya cukup untuk beli coca-cola begitu, jadi aku tidak makan hanya minum coca-cola. Karena minuman itu manis, membuatku cukup kuat ya. Sampai rumah, aku duduk, nggak bisa berdiri lagi. Jadi rupanya aku berjalan sepanjang itu, dan terus berjalan-sampai kakiku itu berjalan udah otomatis, bukan karena tenagaku, karena motoriknya gitu. Kampung-kampung mulai dijaga oleh orang-orang bersenjatakan golok. Jadi sampai rumah, duduk, tidak bisa berdiri lagi karena capek sekali. Nah kemudian hari-hari berikutnya aku mengikuti aksi-aksi itu, orang lari ke sana, aku ikut lari, bukan sebagai pendemo, entah sebagai apa gitu ya.

Termasuk masuk ke gedung parlemen ya dan ada seorang wartawan yang ngenal aku, dia memotret aku ketika aku tertidur lelah di gedung parlemen gitu. Sementara yang lain pidato ya. Ada Goenawan Mohamad, pidato. Dan aku menyelinap agar tidak dikenali.

DO: Jadi pada waktu itu kamu masih nulis puisi ya, menjelang reformasi, yang dimuat di Dalam Rahim Ibuku... itu?

AM: Itu kayaknya di momen-momen setelah reformasi, ada gerakan teman-teman ke TIM untuk menjadikan reformasi sebagai momen untuk mengubah ekosistem kesenian di Taman Ismail Marzuki, dan teman-teman seniman melakukan aksi di situ. Kami menyebut gerakan itu dengan nama "Bongkar". Dan di situ aku menulis puisi buat mereka, kalau tidak salah puisi dengan judul "ada orang hilang", aku tidak terlalu ingat lagi.

DO: Apa kamu rasa itu ... ah, mungkin nanti ... sebelum lanjut lagi, aku mau tanya tentang hubunganmu dengan Widji Thukul dan Dorothea Rosa Herliany dan penyair segenerasi kamu. Gimana caranya kamu jadi berhubungan sama mereka dan hubungan itu seperti apa?

[Berhenti di sini untuk istirahat sebentar]

DO: Kenapa kamu keluar dari UPC?

AM: Keluar dari UPC itu sesuatu yang tidak mudah untukku. Kehidupanku sudah seperti bagian dari denyut UPC itu sendiri hampir selama 24 jam. Selama itu juga aku tinggal di sekretariat UPC di daerah Kalimalang, Jakarta Timur. Sekretariat itu diurus oleh seorang perempuan. Dialah yang mengurus sekretariat itu, yang memasak untuk makan kami, juga bersih-bersih. Suatu hari dia nangis bahwa dia bermimpi aku keluar dari UPC. Dan ternyata mimpi itu benar, tidak berapa lama kemudian aku keluar. Satu keputusan yang buat aku berat banget. Keluarnya aku dari UPC tidak semata-mata urusan dengan rakyat miskin kota, tapi juga urusan perubahan dengan dunia pribadiku juga. Pertama, aku semakin tahu gerakan ini absurd, tidak akan ada titik temunya gitu, bahwa gugatan-gugatan rakyat miskin kota untuk punya akses sosial-ekonomi politik ke pemerintah itu nggak pernah terjadi. Hanya dijadikan sebagai permainan untuk pemilu, atau tempat pejabat mencari panggung. Dan kadang- kadang pemerintah menggunakan rakyat miskin kota juga untuk menteror kami. Jadi dari konflik vertikal menjadi horizontal. Salah satu contohnya bagaimana misalnya seorang ibu yang aktif di jaringan miskin kota, jempolnya dipatahin oleh tetangganya sendiri supaya dia tidak ikut-ikutan akitiv pada gerakan rakyat miskin kota. Jadi ada teror-teror seperit itu.

Juga kami pernah mendapat teror fisik dalam sebuah aksi, yang dilakukan oleh Forum Betawi Rempug itu. Beberapa di antara kami luka-luka, termasuk anak-anak dan perempuan. Absurdisme ini juga bertambah karena dana yang mengalir ke UPC tambah besar. Yang sebelumnya dana tidak ada, terus tambah banyak, tambah banyak, tambah banyak. Terakhir aku keluar, kalau nggak salah, anggaran yang kami terima itu berapa milyar itu, dan menjadi lebih besar lagi setelah tsunami Aceh. Dan aku bingung menghadapi itu dan juga situasi pribadiku. Akhirnya aku cabut dengan berat dan apa ya ... sedih sekali cabut dari jaringan rakyat miskin kota. Selama berhubungan dengan mereka aku mendapatkan keindahan yang lain, yang tidak aku temukan sebelumnya. Setelah itu aku menerbitkan Lubang Dari Separuh Langit yang sebanarnya itu tentang mereka juga. Yang sebelumnya aku tidak berani menulis, karena aku pikir mereka punya bahasa yang khas, yang tidak bisa aku pakai. Dan bahasa itu tidak bisa dipindahkan ke dalam bahasa Indonesia.

DO: Jadi setelah keluar dari UPC, kamu ngapain? Pindah ke solo?

AM: Keluar dari UPC, aku langsung menjauh dari Jakarta. Dan ketika perjalanan dari Jakarta ke Solo, di dalam kereta aku ketemu (adiknya Arifin C Noer, tokoh film dan teater di Indonesia). Embe C. Noer seorang komponis musik, banyak membuat ilustrasi musik buat film dan sinetron. Di kereta ketemu dia, dan dia bertanya "kamu mau ke mana?" -- "aku mau cabut dari Jakarta." Terus dia bilang, "gila, lo berani cabut dari Jakarta?" Karena buat sebagian teman, Jakarta adalah uang gitu, kalau menjauh dari Jakarta berarti nggak punya uang. "Iya aku harus cabut ya." Berani atau tidak berani bukan poin buat aku, jadi cabut ke Solo. Nggak punya bayangan bagaimana hidup baru di Solo, ekonomi dari mana. Sementara waktu itu juga era mulai ada internet, kayak email begitu. Tapi media massa cetak masih hidup, dan aku masih bisa dapat uang melalui honor tulisanku dari media massa cetak, walaupun honornya tambah berkurang ya.

DO: Pada waktu itu kamu nulis Teman-Temanku Dari Atap Bahasa atau itu setelah itu?

AM: Itu di era di Yogya, eh, di Solo dan Yogya.

DO: Jadi, dari Solo ke Yogya itu gimana ceritanya?

AM: Jadi, di Solo itu, kami tinggal di Lemah Putih, itu tidak jauh dari Padepokan Lemah Putihnya Suprapto Suryodarmo, Karang Anyar (Jawa Tengah). Sekarang ada Studio Plesungan yang dikelola oleh Melati Suryodarmo di sana. Nah rumah itu kami kontrak kayak kos gitu Daniel, yang dimiliki oleh suami-istri Solo-Jerman. Suaminya orang Solo, istrinya orang Jerman. Dan kemudian rumah itu mau dipakai oleh mertuanya yang datang dari Jerman. Jadi kami harus pergi. Nah, pergi dari situ akhirnya kita ke Jogja. Di Jogja kami mulai cari-cari rumah, nggak tahu rumah mana yang harus dikontrak. Tetapi ketika kami istirahat makan di Nitiprayan, pemilik warung bilang: "di belakang kamu itu ada rumah kosong, bertahun-tahun nggak ada yang ngisi." "Kenapa nggak ada yang isi?" "Karena dianggap rumah hantu." Harga kontraknya murah sekali, tidak umum. Setahun cuma 600 ribu. Kita masuk, ternyata aku pernah datang dulu ke rumah ini. Rumah yang pernah dihuni oleh Dadang Kristianto. Dia menyewa tanahnya selama 20 tahun dan mendirikan rumah Jawa yang sebagian berdinding kayu di atas tanah, yang dari atas tampak seperti sebuah kubangan besar. Setelah 20 tahun, rumah yang dibangun Dadang jadi milik sipemilik tanah. Jadi sekian lama kosong, tapi pernah dihuni oleh anak-anak punk, anak-anak mural, pernah dihuni juga anak-anak Apotik Komik, Samuel. Dan kita masuk dan di situ untuk berapa lama di Jogja. Bersama anjing-anjing.

DO: Dan itu waktu kamu menulis Museum Penghancur Dokumen ya?

AM: Iya, betul, betul.

DO: Nah selama itu, selama tinggal di Solo, Jogja, kegiatan lain apa? Kamu menjadi kurator waktu itu bukan?

AM: Di Solo, ... waktu itu kan aku hidup bersama pasanganku, dia seorang koreografer. Jadi susah juga mengatakan apa aku dramaturgnya dia atau apa gitu. Tapi aku menemani proses dia sampai tema-tema dia bergeser dari yang sebelumnya berbasis tradisi, mulai mencari pertemuan baru antara tradisi dan tema-tema masa kini. Jadi banyak di Solo, lebih banyak nonton dan nemanin pasanganku. Di Solo lebih banyak tari dan musik. Teater dan seni rupanya kurang maju gitu.

Kemudian di Jogja. Waktu di Jogja ada temanku di Jakarta, Hanafi (seorang seniman perupa), dia terhubung dengan sebuah galeri (Galeri O), dan ngajak aku untuk jadi kurator di galeri itu. Jadi aku banyak mondar-mandir Jakarta-Jogja pada waktu itu. Juga sempat kerja bantuin Jim Supangkat, kayak gitu-gitu.

DO: Bantuin Jim Supangkat seperti apa?

AM: Iya dia kuratornya, nemenin perjalanan-perjalanan kurasi, seperti itu.

DO: Jadi habis dari Jogja, apa ceritanya? Kamu ke Berlin langsung dari Jogja atau udah balik ke Jakarta sebelum itu?

AM: Gimana ya ... aku lupa-lupa ingat ya Daniel. Hmm... oh ya, hubunganku tidak baik ya, dengan pasanganku. Aku tertekan gitu ya Daniel. Akhirnya aku cabut ke Jakarta. Sempat tinggal di apartmen di ... di apa ya ... sebelum di Kalibata ... Bendungan Hilir. Di situ ada apartemen mirip kos-kosan. Setelah itu di Kalibata mungkin 3 bulanan. Setelah itu aku ke Eropa 3 bulan. Nggak berapa lama ke Eropa lagi, setahun lebih begitu. Aku sempat kembali lagi ke Solo juga. Terus, bayanganku waktu mau kembali dari Berlin ke Indonesia, aku mau tinggal di Surabaya. Aku sudah lama sekali ingin tinggal di Surabaya. Karena menurutku Jawa Timur punya banyak situs peninggalan arkaeologi masa lalu, yang mungkin buatku menarik untuk mengisi ketidaktahuanku tentang banyak hal di Indonesia. Tapi ternyata sebelum ke Surabaya, Hanafi kembali ngontak aku untuk membantu pekerjaannya di Bogor. Karena di Bogor ada seorang teman yang mau bikin museum. Dan aku diminta jadi programmernya. Akhirnya aku kembali lagi ke Jakarta dari Berlin dan berhubungan dengan Bogor, tapi proyek itu nggak pernah terjadi. Sampai akhirnya aku duduk di Dewan Kesenian Jakarta. Setelah itu, sebelum covid aku ke Surabaya. Setelah itu, covid sampai sekarang aku di Sidoarjo, Jawa Timur.

DO: iya itu aku ingat, itu udah ...

AM: Iya

DO: Tahun berapa itu, pindah ke Surabaya, 2019?

AM: Januari 2020

DO: [ngobrol2 tentang perjalanan mamaku ke Indonesia]

Sekarang, kita bisa pindah ke pertanyaan yang lebih umum. Pertama, pergaulan kamu dengan penyair segenerasimu. Terutama aku tertarik dengan Widji Thukul, Dorothea Rosa Herliany, dan Kriapur, aku tertarik sama dia juga.

AM: Iya di eraku ada satu platform yang dibuat oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta yang diketuai oleh Abdul Hadi WM. Platform itu namanya Forum Penyair Muda. Kalau tidak ada platform ini, mungkin aku juga tidak ada. Nah aku diundang oleh platform ini sebagai penyair muda. Melalui platform inilah muncul nama-nama yang kemudian aku kenal. Di antaranya Kriapur, kemudian jadi temanku, ada Dorothea, ada Zawawi Imron, tapi Wiji Thukul tidak masuk di dalam platform ini. Nah sebagian mereka itu adalah bagian dari platform Forum Penyair Muda ini. Era itu, banyak sekali generasiku yang lahir tahun 50an itu menerbitkan puisi di berbagai kota ya: Medan, Padang, Lampung, Makassar, Surabaya, Jogja, Bandung, dan seterusnya. Dan aku tahu mereka nggak ada pembicara. Generasi seperti HB Jassin, itu nggak pernah sampai ke mereka. Akhirnya aku jadi pembicara untuk generasiku sendiri. Aku mengamati puisi-puisi mereka dan sebagian besar itu, pembacaan tentang mereka, terbit di Sesuatu Indonesia. Mungkin kalau tidak ada Sesuatu Indonesia sebagian mereka juga tidak ada [hahaha]. Jadi terekam di situ. Aku mengenal mereka tidak semata- mata lewat buku mereka, tapi juga lewat perjalanan dari kota ke kota. Semakin terhubung dengan mereka, dengan Kriapur juga begitu, dengan Dorothea juga begitu. Aku kenal Doroteha sejak dia masih mahasiswa. Joko Pinurbo juga masih mahasiswa. Mungkin aku sama Dorothea itu ... apa ya? Punya ketertarikan, dalam arti kita kayak satu frekuensi. Dia menulis puisi tentang aku, aku juga, kalau nggak salah, aku pernah menulis puisi tentang dia. Dan imajinasi dia tentang aku di dalam puisinya itu seperti seorang laki-laki yang telanjang naik kuda di tengah kota dan menembaki kota dengan pistol. Aku bingung sekali dengan imajinasi dia tentang aku seperti itu. Nah hubunganku sama mereka seperti itu, tapi aku nggak pernah terlalu tahu pikiran mereka selain puisi mereka itu. Kriapur meninggal lebih cepat ya. Dia penyair yang mati muda. Sangat menyedihkan. Ada sahabatku juga, Oewik Sanuri Emwe (juga penyiar yang tidak terlalu dikenal), juga mati muda. Sangat menyedihkan.

DO: Kalau Wiji Thukul gimana?

AM: Wiji Thukul ... Ada seorang aktivis di Solo namanya Halim HD. Dia punya forum di Solo. Dia kayak ... apa ya. ... acara apapun bisa dia bikin di Taman Budaya di Solo. Sampai suatu saat dia mengundang aku untuk bicara di forumnya. Dan aku takut sekali karena undangan dia berarti undangan yang sangat penting. Dan aku merasa tidak punya kapasitas untuk diundang dia. Dan benar saja ketika mulai bicara waktu itu - bukan di Solo, justru di Yogya- aku nggak bisa ngomong apa-apa. Jadi pikiranku blank, aku gugup sekali. Tapi Halim tidak pernah kapok, dia ngundang lagi aku ke Solo. Terus karena nggak ada dana, nginapnya di kantor Halim ... Waktu itu Halim menjalankan sebuah penerbitan, dan Halim tinggal di kantor penerbitan ini. Nah dalam rangkaian banyak acara di Solo yang dibuat oleh Halim inilah aku mulai berhubungan dengan Wiji Thukul. Waktu itu Wiji Thukul hidup sebagai tukang furnitur. Masih cadel sekali. Sangat khas Jawa, dari kampung gitu ya. Jadi ketemu dia nggak beda jauh ketika aku berhadapan dengan rakyat miskin kota. Kayak begitu ya.

DO: Itu sekitar tahun berapa?

AM: Uh, mungkin tahun-tahun 93, 94, 95, atau akhir tahun 80-an. Dan ada kebiasaan yang aku lakukan. Setiap aku sampai di kota A, aku dapat uang, aku ngajak teman lain untuk ke kota lain lagi dengan uang itu. Sampai ujungnya di Surabaya gitu. Kalau di Surabaya kehabisan uang, aku akan nelpon redaktur, pinjam uang, nanti diganti dengan tulisan. Jadi di era itu aku bisa minjam uang dengan redaktur di sebuah koran yang dibayar dengan tulisan. Nah Wiji Thukul termasuk pernah jadi bagian dari perjalanan itu sampai di Surabaya. Rute pembacaan puisi berkisar di antara kota-kota seperti Bandung, Tegal, Semarang, Solo, Yogya, dan Surabaya. Semuanya kadang terhubung dengan lembaga-lembaga seperti surat kabar lokal, Dewan Kesenian, atau Taman Budaya. Jadi kami baca puisi bareng. Sehari-hari Wiji Thukul nyari uang dengan ngamen puisi. Tapi dia mulai baca puisi bersamaku lewat perjalanan dari kota ke kota itu.

DO: Kalau generasi penyair muda sekarang - hubunganmu dengan generasi sekarang kayak apa?

AM: Hmm... bagaimana ya?

DO: Atau generasi yang termasuk Anya, Ninin, dan lain-lain?

AM: Di Indonesia itu kayaknya ada tradisi di mana hubungan lintas generasi itu jarang terjadi ya. Hubunganku dengan kawan-kawan kayak Bunga Matahari, Mikael Johani, Anya, dan lain-lain itu kayak pertemuan-pertemuan di luar dugaan. Dan ternyata mereka juga adalah generasi yang masih bisa nikmati karyaku. Sampai sekarang aku ketemu anak-anak muda di mana mereka mungkin ... justru lebih bisa menikmati puisi-puisiku dibandingkan dengan generasiku sendiri [hahaha]. Mereka lebih terhubung ya. Ketika performance-lecture aku di Jogja kemarin, di luar dugaanku, yang datang cukup banyak, 200 orang lebih.

DO: Itu di mana?

AM: Di Book and Art Jogja festival, di Kampung Mataraman. Hampir seratus persen anak muda yang datang. Dan itu performance yang berlangsung dua jam, dan mereka bertahan.

DO: Ada rekaman nggak?

AM: Nggak tahu aku. Kuratornya Dodo Hartoko. Dan aku minta maaf ke Dodo kalau banyak kekurangan dari acara itu, tapi Dodo bilang "kamu bikin semua orang bahagia," katanya. Dan emang anak-anak muda itu hepi gitu. Bahnkan ada satu di antara mereka menghampiriku, aku pikir mau minta tanda tangan atau untuk foto selfi, karena generasi sekarang kan kalau nggak tanda tangan mau foto selfi. Ternyata dia hanya untuk menyalamiku dan mengucap terima kasih gitu. Pernah juga misalnya di Makassar aku baca puisi, terus ada 3 cewek lari ke panggung sambil teriak-teriak "anti-mainstream, anti- mainstream" gitu. Jadi untuk mereka aku dimasukin ke genre anti-mainstream [hahaha]. Dan kayaknya mereka butuh itu ya. Kehadiranku untuk mereka membuat mereka berani.

Mereka generasi yang lain. Generasi yang hubungannya tidak lagi organik seperti hubugan dengan generasiku dalam pertemuan-pertemuan langsung. Pada generasi masakini ada lapisan tertentu yang membuat kita nggak pernah bisa ketemu bareng, lebih banyak melalui media sosial. Mungkin juga karena jarang ada forum diskusi-diskusi puisi dibandingkan dengan sebelumnya. Sebelum era internet hampir setiap bulan selalu ada diskusi sastra.

DO: Forum penyair muda itu terjadi kapan?

AM: Itu tahun ... tahun 80an. Waktu itu komite sastra itu Abdul Hadi WM.

DO: Dan kalau hubungan kamu dengan generasi sebelumnya gimana?

AM: Mungkin ini ya membuat aku tidak ingin dilihat seperti tokoh gitu ya. Karena generasi di atasku ... aku minta maaf ya.... di dalam persepsiku, mereka megalomaniak. Mereka sangat bintang gitu, mereka sangat patron-klien. Hubungan dengan generasi muda sangat hirarkis, senior-junior gitu. Salah satu di antara generasi mereka yang agak cair menurutku mungkin Sitor Situmorang. Yang membuat aku bisa lebih dekat dengan Sitor dibandingkan dengan yang lain. Jadi aku tidak banyak membuat hubungan dengan generasi di atasku.
Sampai satu hari aku kepergok ketemu Umar Kayam. "Nah ini nih yang nggak pernah datang ke rumahku," kata Umar Kayam setelah berpapasan secara tidak terduga dengannya. Jadi ternyata hampir semua sastrawan itu pernah main ke rumah Umar Kayam. Nah aku satu- satunya yang nggak pernah main ke rumah dia. Terus terjadi dialog dengan Umar Kayam, waktu itu ada Butet Kartarahardja. Sambil ikut mendengar dialog kami berdua, Butet komentar, "ini ujian S2 ya, mas>" katanya berkelekar [hahahah], kayak begitu. Dalam pertemuan itu Umar Kayam pakai istilah migrasi untuk diriku yang dianggap terus berjalan. Istilah yang dia gunakan, karena aku dengan Teater Sae baru saja mementaskan pertunjukan Migrasi dari Ruang Tamu. "Ini orang yang migrasi terus," katanya.

DO: Ok, ini udah mau selesai, cuma dikit lagi. Aku tertarik-dari satu zaman ke zaman yang lain, dalam penulisanmu sendiri apa yang berubah dengan persepsi kamu tentang pembaca atau tentang audiens, misalnya dari ketika kamu menulis Mitos-Mitos Kecemasa sampai ke Museum Penghancur Dokumen sampai sekarang. Ada perubahan nggak? Dalam bayanganmu tetang siapa yang baca dan buat apa?

AM: Kayaknya ada perubahannya. Di era aku itu kadang-kadang yang mengundangku baca puisi perempuan ya dan aku bingung. Kenapa mereka suka puisiku ya? Ternyata memang cukup banyak perempuan yang suka puisiku, padahal puisiku tidak romantik. Menurut mereka puisiku tidak punya jenis kelamin.

Pembayangan tetang pembaca di era awal-awal aku menulis puisi adalah pembaca yang dibangun lewat ekosistem media massa cetak. Ada koran-koran yang memuat puisi dan cerpen setiap minggu. Hampir di seluruh media massa koran. Ada majalah Horizon, adalah majalah Budaya Jaya, ada majalah Basis. Jadi bayangan tentang pembaca adalah bayangan ... dunia pembaca yang dibangun lewat media massa cetak itu. Dan mereka datang ke sebuah pembacaan puisi lewat poster yang ditempel di tempat-tempat tertentu dan melalui berita di media massa koran. Jadi tidak ada satu pembayangan yang spesifik, seperti yang terjadi di dunia teater. Kadang-kadang di dunia teater penonton itu diposisikan lebih spesifik dibandingkan dengan acara pembacaan puisi. Jadi seluruh pembayangan adalah pembaca dalam bahasa Indonesia yang mereka-dalam tanda kutip-berarti pelanggan koran juga.
Berarti pembaca puisi adalah juga pembaca koran. Nah begitu bayanganku tentang pembaca.

Semua ini sekarang bergeser. Yang dimasuk pembaca sekarang ada hubungannya dengan angka follower. Ada hubungan dengan akun-akun media sosial yang harus kita sapa. Kalau tidak disapa berarti bukan bagian dari dunia kita. Jadi batas pembaca menjadi jauh lebih spesifik dibandingkan pembaca sebelumnya yang mungkin sifatnya lebih general atau lebih umum sebagai bagian dari pembaca media massa koran. Kalau sekarang, adalah bagian satu aktivasi sosial lewat media sosial. Sementara aku bukan generasi yang rajin bertegur sapa di media sosial. Akun Instagramku (@malna.a) misalnya, itu lebih banyak dijalankan oleh Syska daripada oleh aku. Kadang-kadang aku nggak pernah buka untuk berapa bulan. Jadi lebih Syska yang menggerakkan, kecuali kalau ada DM-DM yang perlu jawaban spesifik, baru Syska memberitahu aku. Jadi pembaca sekarang adalah pembaca yang harus jadi lingkaran dari lingkaran mutualis kita di dalam aktivitas media sosial; pembaca yang harus harus dikelola dengan rajin.

Nah kan ketika kamu menerbitkan terjemahan Museum Penghancur Dokumen itu, kamu kan menggerakkan ekosistem yang kamu kenal ya, dari kampus sampai jurnal-jurnal, di antaranya melalui wawancara. Nah di sini ekosistem itu bisa dikatakan nggak jalan. Kampus kayaknya nggak ada hubungan dengan dunia sastra. Kampus nggak cukup aktiv merespon terbitnya sebuah karya sastra. Apalagi jurnal. Jadi ekosistem kayak gitu di sini nggak jalan. Jadi ekosistem di sini berjalan sebagai ekosistem liar.

DO: Jadi kamu rasa dulu (80an, 90an) puisi itu buat apa? Atau siapa? Fungsinya apa? Pada zaman media cetak?

[Berhenti di sini, sudah malam, kafe mau tutup. Dimulai lagi besoknya]

AM: Puisi ditujukan untuk siapa ya?

DO: Siapa dan apa gitu ... apa maksudnya? Fungsinya apa ya?

AM: Iya. Aku pernah nonton sebuah film ya. Judulnya kalau nggak salah War of the Rose. Film ini tidak sama dengan film komedi yang berangkat dari novelnya Warren Adler yang dibuat tahun 1989, walau judulnya mirip. Film yang aku maksud itu ... aku lupa ya .. kayaknya tentang perang dunia yang terjadi di Eropa Timur. Aku juga lupa apakah perang dunia satu atau perang dunia kedua. Ada seorang gadis muda, namanya Rose, yang kemudian menjadi judul film itu. Dia terpisah dari orang tuanya karena perang. Dia mengungsi dengan kereta terbuka di tengah salju turun. Saat itulah perma kali dia menulis puisi dan ditujukan untuk ibunya. Puisinya berbunyi: "mama, dari mana kamu belajar menghapus air mata?" Puisi itu sangat membekas untukku, terutama dia membuatku bertanya, kenapa aku tidak menulis puisi buat ibuku dan kemudian bertemu menghadapi ibuku lalu berkata kepadanya: "ibu, ini puisi buat kamu, dan aku ingin membacakannya," di tengah ada keluarga-keluarga yang lain. Kenapa keluarga seperti itu hilang di Indonesia? Atau tidak ada? Sebuah keluarga di mana bisa menerima anaknya menulis puisi dan baca puisi di dalam rumah? Kenapa ketika kita nulis puisi, hubungannya langsung ke publik luas, bukan ruang domestik kita sendiri. Itu sebuah ruang yang hilang di dalam dunia puisiku. Mungkin juga di dalam dunia puisi Indonesia. Aku nggak tahu apakah kamu pernah seperti itu, dimana kamu bangga menulis puisi dan membacakannya buat ibumu atau buat mereka sebagai keluarga.

DO: Aku sendiri pernah ya ...

AM: Berarti di luar, itu cukup umum ya.

DO: Nggak umum sih ... ada keluarga tertentu yang seperti itu ya tapi nggak umum...

AM: Nah itu hilang. Kehilangan itu dampaknya besar ya. Kalau kamu bertanya untuk siapa aku menulis puisi, di depanku hanya ada seseorang, Daniel, dan orang itu adalah diriku sendiri. Jadi aku menulis puisi sebenarnya untuk diriku sendiri. Aku nggak punya cara untuk memproyeksikan siapakah diriku itu. Apakah dia sebuah pribadi tunggal atau dia sebuah pribadi yang dikonstruksi oleh sejarah puisi Indonesia. Tapi yang terbayang adalah memang adalah diriku sendiri. Jadi aku nggak bisa berkata lebih jauh puisiku sebenarnya ditulis buat siapa. Kecuali apa yang disebut dengan diriku adalah sebuah pengertian yang bisa menjadi majemuk. Jadi sepenuhnya dia untuk diriku. Nah begitu ya Daniel. Terus, apa ya selanjuatnya?

DO: Jadi untuk dirimu... nah, kalau gitu, apa maksudnya mengeluarkan puisi itu ke publik atau ke orang lain gitu. Dan buat mereka atau buat sesuatu yang di luar dirimu apa maksudnya?

AM: Betul, betul, betul. Itu juga sebuah ruang yang hilang ya. Tidak ada satu ruang di mana terjadi satu percakapan kritis sebelum buku-buku itu masuk ke percetakan, memunculkan pertanyaan kemudian buat apa dia dipublikasikan gitu. Jadi tiba-tiba setelah dia ditulis dia sepenuhnya seperti urusan penerbitan puisi gitu ya, industri penerbitan puisi, bukan lagi urusan untuk mencari tahu untuk apa dia diterbitkan. Aku mendapatkan input bahwa puisiku tuh mungkin ada gunanya ya dari reaksi-reaksi pembaca. Pembaca yang sebelumnya nggak pernah bisa aku bayangkan siapa mereka, baru sedikit mulai aku kenal setelah buku terbit dan beberapa pembaca mulai berkomentar. Dan itu membuat aku seperti tertolong untuk mendapatkan jawaban, apa gunanya puisiku, melalui respons pembaca; bukan lewat bagaimana aku mendefinisikan pembaca sebelum buku itu terbit. Cukup enak ya [merujuk pada gorengan yang dimasak oleh Syska].

DO: Iya, enak.

Ada pertanyaan lagi ... sebentar aku mau buku laptop dulu ... kalau dulu kamu nulis, itu masih sama, perasaanmu?

AM: Aku lebih menikmati penulisan puisi di masa mesin tik. Karena di situ ada pekerjaan tangan. Aku nulis tangan dulu, pindahin ke mesin tik, kemudian mengeditnya. Cara aku mengedit dengan menggunting-gunting kertas dimana puisi sudah diketik di atas kertas itu, memindahkan strukturnya, tempel lagi... atau ditypex, atau sebagian digunting-gunting.
Kertas ketikan akan penuh dengan coretan pulpen warna-warni. Dan aku pernah mengumpulkan bekas-bekas tulisan itu yang telah selesai aku ketik dan penuh dengan coretan pulpen warna-warni, cukup tebal gitu. Waktu itu ada seorang kritikus dari Bonn, Jerman.
Aku lupa namanya. Dia suka dengan puisiku. Dia menulis respons terhadap puisiku di sebuah jurnal akademik, di Bonn. Dan dia membuka tulisannya dengan cara yang sangat pribadi: "Pertama aku tidak bisa masuk ke dalam puisi Afrizal. Kemudian aku mulai bisa masuk, aku mulai merasa gelisah. Dan kemudian puisi itu mulai memperangkapku." Kayak gitu tahapan-tahapan yang dia temukan. Nah kertas-kertas coretan puisiku itu-karena aku berpindah-pindah kota-aku kasih ke dia. "Buat kamu aja deh, mungkin untuk kamu ada gunanya." Karena emang dia suka sama puisiku. Aku nggak tahu apakah itu masih ada atau tidak ya ... aku tidak tahu. Dia selalu membuat suasana yang sangat khas setiap bertemu denganku, ada wine merah, ada mawar merah, ada rokok yang dia bawa dari Jerman.

Terus ada lagi seorang pembaca yang justru memperangkapku. Dia seorang perupa yang suka puisiku. Satu hari dia tiba-tiba mengirim lukisan dengan beberapa sosok laki-laki gundul. Aku tergoda dengan lukisan itu. Akhirnya aku ketemu dia di Bandung. Dan lukisan- lukisan itu ternyata sebuah skenario di mana setiap lembarannya itu sama seperti sebuah peristiwa yang aku jalani sebagai kenyataan di Bandung yang dirancangnya. Sampai kemudian kami bersetubuh. Itu pengalaman yang gila, dan si pembaca itu bertemu dan bersetubuh hanya untuk mengatakan bahwa dia suka puisiku tapi tidak mengerti. Kemudian dia bercerita pengalamannya yang untukku menarik. Dia mulai mengetik ulang puisiku, tiba- tiba setelah itu dia merasa tidak lagi memiliki persoalan dengan makna dalam puisiku. Seolah- olah puisi itu menjadi jelas dengan sendirinya, setelah dia mengetik ulang puisiku. Dan ujungnya adalah melakukan persetubuhan denganku. Jadi gila sekali pembaca yang satu ini, absurd. Setelah itu aku takut ketemu dia. Dia bilang, "kalau kamu ke Bandung, aku adalah rumahmu, kamu bisa datang kapan pun." Aku menghindar terus, sampai satu kali di dalam sebuah event ada dia. Aku ngumpet di balik dinding, dia tahu. Tapi aku takut [hahaha].

Terus, apa itu pembaca ya Daniel? Aku tidak tahu. Aku harus melihat pembaca sebagai bagian dari proses penciptaanku atau aku menemukan pembaca lewat pembaca yang menemukan puisiku gitu. Itu dua hal yang menurutku berbeda ya. Dan aku susah juga menentukan di antara keduanya. Kadang-kadang aku rindu baca puisi hanya untuk lima orang, sambil minum kopi, ngerokok, ngobrol. Kadang-kadang aku telpon teman, "aku mau baca puisi buat kamu." Terus aku baca lewat telepon untuk dia. Dan itu bukan perempuan, laki-laki. Dia terima kasih gitu. Menempuh cara-cara pribadi untuk nyampaiin puisi ke publik, menurutku menarik juga.

Tapi pernah ada juga seorang perempuan, ... waktu itu aku di sebuah hotel, , dia ingin... dia masuk ke kamarku dan dia ingin aku bacakan puisi buat dia di kamarku. Sampai perempuan itu pulang lagi, aku nggak membacakan puisiku. Karena aku nggak tahu ini peristiwa apa ya. Jadi terlalu personal ya?

DO: Nggak terlalu. Tapi menarik karena puisi kamu nggak bersifat terlalu personal. Ada banyak hal seperti hal sosial yang dihadapi di situ.

AM: Tapi pernah juga ada seorang anggota DPR minta izin ke aku, dia perempuan, untuk membacakan salah satu puisiku di DPR. Kayaknya puisi yang itu, "presiden digergaji" itu.

DO: Itu puisinya terjemahannya baru diterbit di Modern Poetry in Translation. Jadi itu ada pembacaanku juga mau terbit di websitenya minggu depan.

[makan, makan]

DO: Tapi emang untuk penerbit di luar kan (mungkin di dalam juga), sekarang, mungkin karena Gaza, karena apa yang terjadi di situ, ada banyak perhatian pada puisi perlawanan. Karena gitu memang aku sebenarnya rasa agak sinis tentang itu. Seperti puisi itu jadi gampang dijual dalam situasi politik seperti itu - di Eropa dan di Amerika. Tapi aku penasaran orang sekarang berpikir apa tentang puisi perlawanan menjelang reformasi gitu. Dibanding sekarang. Waktu itu orang mikir itu puisi buat apa dan kenapa harus ditulis, dan sekarang perasaan tentang puisi itu seperti apa kalau dilihat kembali?

AM: Aku ingin menjadikan Wiji Thukul sebagai tatapanku. Dia seorang penyair, mungkin hampir satu-satunya penyair Indonesia yang menulis puisi-puisi sebagai protes sosial langsung yang sangat baik, karena dia adalah korban langsung dari ketidakadilan, dia adalah subjek utama dari ketidakadilan itu. Jadi bahasa yang keluar juga bahasa yang sangat organik, dari masyarakat Jawa pinggiran yang miskin dan terpinggirkan. Tapi ketika dia aktif di PRD (Partai Rakyat Demokratik), dia berubah menjadi sosok yang lain. Wiji Thukul yang aku kenal, dia seorang pelo, telah berubah. Setelah dia aktif di PRD, dia tidak pelo lagi, dia normal dan cara berpikirnya sudah kayak mesin ya. Aku ketemu dia terakhir di TIM dan entah kenapa aku takut dengan dia. Dia seperti mesin yang menyerang siapapun. Dan dia menjadi korban, dia hilang, kemungkinan dibunuh. Sementara mereka yang pernah menjalani peran penting di PRD bersama Wiji Thukul, setelah reformasi jadi menteri di kabinet yang baru. Dan Wiji Thukul sendiri hilang dan sampai sekarang nggak ada penjelasan tentang itu. Terlalu banyak sejarah gelap di sini, dan dibiarkan hidup sebagai hantu. Aku ingin Indonesia yang berubah, terbuka, dan jujur.

[ngobrol-ngobrol tentang buku, perpus]

AM: Ben Anderson pernah mengundangku. Untuk 6 bulan ke Cornell. Terus waktu itu ... aku lupa ya ... kayaknya ada dua yang pernah mengundangku, satu dari Paris, aku lupa namanya, siapa ya, untuk studi di situ juga. Dua-duanya aku tolak, karena buatku waktu itu kondisi Indonesia sangat menarik ya. Perubahan politik menjelang reformasi. Tubuhku terlibat cukup intens dalam dinamika sosial-politik di indonesia pada waktu itu. Terutama karena masih media massa cetak....

DO: Dan waktu ini kamu udah terlibat sama UPC belum?

AM: Belum. Jadi baca koran, aku langganan koran Kompas, dan membaca seluruh berita, jadi tubuhku kayak bisa merasakan tekstur politik. Dan aku bukan takut kehilangan isu itu, tapi aku takut kehilangan teksturnya yang aku rasakan lewat tubuhku. Akhirnya aku tolak dua-duanya, ke Paris maupun ke Cornell. Tapi undangan ke Paris itu lebih awal, sebelum Cornell.

DO: Kamu sering ada tawaran yang ditolak kan, seperti misalnya penghargaan Bakrie.

AM: Bakrie dan juga ... ASEAN award?

DO: SEA Write.

AM: Itu penghargaan dari kerajaan Thailand ya? Itu juga aku nggak datang. Aku lebih milih nonton pertunjukan teater di Surabaya waktu itu. Karena banyak sekali acara seremoni dengan raja, Daniel. Dan setiap seremoni itu bajunya beda-beda, seremoni ini pakai jas, seremoni ini pakai baju tradisi, dan aku bingung tradisiku apa? Apa aku boleh pakai koteka gitu [hahaha]. Kayak begitu-begitu, ini jokeku, bercandaku, apakah koteka bisa disebut sebagai baju tradisi. Jadi aku nggak datang ke Bangkok. Kalau Bakrie, iya, dengan sendirinya. Karena kalau aku ambil aku jadi aneh banget. Tapi ternyata ada banyak sastrawan Indonesia yang mengambilnya ...

DO: Lumayan banyak yang menolak juga ...

AM: Iya, termasuk Goenawan setelah menerima lalu mengembalikannya. Yang menolak di antaranya ada Seno, tapi dia pakai press release gitu. Ada Sitor, dan aku. Kalau aku, nggak membuat press release, karena aku nggak ingin jadi viral lewat penolakan itu. Kalau aku jadi viral, aku jadi menggunakan penolakan itu sebagai panggung ya. Jadi aku diam-diam aja.
Ketika pengumuman, aku ada di TIM, aku justru datang ke tukang ramal, meramal diriku. Dan aku dimarah-marahin sama tukang ramal ini, "kamu tuh ateis ya!?" katanya. Aku bingung juga bagaimana tukang ramal bisa membaca diriku? "Tapi tidak apa-apa," katanya lagi. Setelah dia marah-marah lalu dia memujiku: "Tuhan kamu adalah langit dan bumi dan kebudayaan gitu." Aneh dan lucu juga si peramal itu. Sosoknya mirip-mirip peranakan Tionghoa, tapi juga mirip Dayak gitu. Itu terjadi di depan TIM sebelum TIM berubah menjadi sangat jelek setelah direnovasi seperti sekarang ini.

DO: Mungkin itu cuma tembakan untung kalau kamu datang dari TIM ya?

AM: Dan dia juga yang memberitahu bahwa aku akan ditinggalkan oleh pasanganku. Masih ingat ya?

DO: Masih.

AM: Dia bilang, "kamu tuh nggak tahu bahwa istrimu diambil orang di depan matamu sendiri." Eh, betul ya.

DO: Kalau hubungan kamu dengan Saut Situmorang gimana?

AM: Saut Situmorang awal ketemunya ... aku lebih kenal dulu dengan Katrin Bandel, ketika dia masih mahasiswa di Frankfurt. Jadi aku bertemu dia di Frankfurt dalam pertunjukan Teater Sae dan dia sebagai voluntir untuk pertunjukan itu. Akhirnya di Indonesia ketemu lagi, udah jadi istrinya Saut. Perkenalanku dengan Saut lewat Made Wianta. Made Wianta ini seorang perupa penting, tinggal di Denpasar, Bali. Dia baru saja meninggal dua tahun lalu.
Dan ketika Saut tinggal di Indonesnia, kalau gak salah, awalnya dia numpang di tempatnya Made Wianta. Nah mungkin lewat Made Wianta inilah Saut mengenal diriku. Dan aku pernah menulis beberapa pameran Made Wianta dan katalognya bisa diakses di perpustakaan Made Wianta, yang aku duga membuat Saut juga terhubung denganku. Akhirnya kita bertemu, di Jogja. Kayak begitu, pertemuannya.

Tidak pernah terjadi diskusi yang panjang sama dia. Setelah itu dia tinggal di Jogja, aku juga tinggal di Jogja. Kadang-kadang kita bertemu di kafe Asmara. Dan dia respek sama aku, aku juga respek sama dia. Seseorang yang menurutku potensinya besar dan entah kenapa dia seperti berada di ruang yang tidak cocok untuknya. Dia cukup lama di luar kan? Kanada ya? Dia kuliahnya?

DO: Uh, New Zealand kalau nggak salah.

AM: New Zealand, ya. Seorang yang identitas Bataknya sangat kuat ya.

DO: Kalau Rendra, kamu pernah berteman sama dia?

AM: Rendra seorang yang sangat hangat. Jadi ketika aku mulai terhubung sama dia, dia hangat sekali. Aku nginap di tempatnya. Dia datang ke tempat aku tidur, dia naruh selimut di tubuhku, kayak ibuku gitu. Pagi-pagi dia ketuk kamarku bangunin aku untuk sarapan.
Menurutku luar biasa sekali ya. Hal-hal kayak begitu. Satu kali, kita sama-sama di sebuah hotel dan aku kehabisan uang. Aku bilang-aku memanggilnya dengan sebutan Mas Willy- "mas aku kehabisan uang, gimana ya?" Dia langsung lempar dompetnya. "Ini, kamu ambil yang kamu butuhkan." Dompet itu tebal sekali, isinya ratusan ribu. Aku belum pernah lihat dompet yang begitu tebal dengan uang ratusan ribu ya [hahaha].

DO: Lucu ya.

AM: Ternyata aku dengar-dengar memang Mas Willy seperti itu. Kalau wartawan datang dia masakin gitu.

DO: Aku pikir di generasi kamu dia salah satu yang pengaruhnya paling jelas, dari semua penyair generasi dia.

AM: Oh gitu. Iya, ya.

DO: Udah cukup sampai sini aja ya. AM: Cukup ya?

DO: Cukup.